Kamis, 20 Maret 2014

TETESAN TUHAN

secercah asa menepis jiwa
jiwa-jiwa yang hanyut dalam fana
dalam jalan dakian
semakin tinggi semakin curam
terus mendaki, meninggi, menyamai awan
awan kabut menutup kecerahan
cerah itu yang belum tentu cerah setelahnya.
...
semakin tinggi,
hingga mencapai puncak lah
lalu menombokkan tongkatnya pada titik tujuannya
tapi ia lepas dari dakian
dakian yg sudah ia pijaki setapak demi setapak

dan
perlahan tetesan Tuhan memusuhinya
membuatnya gemetar sendiri
ia lalu terjatuh
semakin rapuh dalam dinginnya puncak
tanpa berfikir menjalani pijak-pijak yg sudah
hilang dalam ingatnya
pijak yang ia lewati setapak demi setapak.

CERITA CINTA PERTAMA

lama aku tertahan,
termangu di keheningan
masuk dalam lamunan,
duduk diam dan mencari apa yang aku fikirkan.

lalu aku bangkit dari perinjakan ku,
berdiri lalu berlari.
dan,...
aww !
tersentak ku ulah sosok.
ia menatap tajam
penuh sendu di wajahnya.

ku ucap sebuah tanya.
mengapa ia.
lalu mulai bersuara
"aku jatuh dalam jurang, jurang dalam tanpa tuan"
lalu apa ?
sinis ku menggertaknya.
cinta ku pertama....

DURJANA RINDU

ketika jenuh mengulas rindu
kata menari melayang jauh
bermain semu dengan sosok
sosok semu pembanting batin

berusaha naik namun jatuh
berusaha masuk namun menolak
berusaha satu namun terpisah...
itu lah raga tanpa jiwa matannya
tak mampu menatap
tak mampu merasa
tak mampu bergerak dan lepas terbang

ia diam dalam keramaian
sepi ketika senyum memeluknya
ia meratap dalam ingatnya
merangkak ketika ia sudah berlari

dasar buana !
pembunuh tawa !
perangkap dunia
jamu dan racun tanpa ramuan

dasar buana !
durjana yang membawaku
terpasung pada kayu sudah ku ukir indah.

MENIKAH DENGAN SAJAK

dalam lembar - lembar yang tak aku mengerti
ku terus mencoret kan pena ku
mengisi kekosongan itu dengan sebuah
sajak, bahkan bahasa baku.
ku coba menghapus hampa, meramu jalinan - jalinan ide di otakku.
menari dengan kata - kata ku.
melamar prosa - prosa itu untuk terus mendampingiku.
...
dalam lembar - lembar yang tak aku mengerti
aku terus berteman dengan sajak - sajak ku.
mulai membentuk majas yang bergelantungan
untuk mengakhiri semua dengan titik yang indah.

dalam lembar itu pula,
aku mulai bercinta dengan indah membentuk sebatang kalimat
ku sapu semua lelah dan ku ciumkan bibirku pada tintaku.
ku ramu kasih - kasih yg tak sempat ku ungkap,
ku alunkan nada - nada rona itu,
lalu ku jamah hingga bagian yg teramat penting dalam rasaku.

dalam lembar - lembar yang tak aku mengerti,
aku bawa mimpi ku dalam lincahnya penaku.
dan aku terus tidur dalam lembar ku.