secercah asa menepis jiwa
jiwa-jiwa yang hanyut
dalam fana
dalam jalan dakian
semakin tinggi semakin curam
terus mendaki, meninggi, menyamai awan
awan kabut menutup kecerahan
cerah itu yang belum tentu cerah setelahnya.
...
semakin tinggi,
hingga mencapai puncak lah
lalu menombokkan
tongkatnya pada titik tujuannya
tapi ia lepas dari dakian
dakian
yg sudah ia pijaki setapak demi setapak
dan
perlahan
tetesan Tuhan memusuhinya
membuatnya gemetar sendiri
ia lalu
terjatuh
semakin rapuh dalam dinginnya puncak
tanpa berfikir
menjalani pijak-pijak yg sudah
hilang dalam ingatnya
pijak yang
ia lewati setapak demi setapak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar